Logo Kemenag SIRITA Sistem Informasi Religi Tana Toraja
DWP

Dari 'Tabe' Hingga 'Pipis': Cerita Kehangatan dan Integritas DWP Kemenag Tana Toraja di Bali

Tayang: Rabu, 17 Juni 2026 13:55 WITA

Penulis: Andrew Pangala

331 views 11 suka 16 dibagikan
Dari 'Tabe' Hingga 'Pipis': Cerita Kehangatan dan Integritas DWP Kemenag Tana Toraja di Bali
DWP Kemenag Tana Toraja Bersama DWP Kemenag Karangasem

Karangasem, Humas DWP Kemenag Tana Toraja — Siapa sangka, perjalanan menyeberang pulau sejauh ratusan kilometer mempertemukan dua budaya besar dalam satu kata santun yang sama: tabe’. Kata permisi ini menjadi jembatan keakraban bagi rombongan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tana Toraja saat melaksanakan studi tiru pembangunan Zona Integritas ke Karangasem, Bali.

Selama enam hari pada 8–13 Juni 2026, rombongan yang terdiri dari 23 peserta ini dipusatkan di Kantor Kemenag Kabupaten Karangasem dan MAN Karangasem. Dipimpin langsung oleh Ketua DWP Kemenag Tana Toraja, Nursia Patiroi, studi tiru ini bertujuan mempelajari tata kelola Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).

Namun di sela-sela agenda formal belajar transparansi birokrasi, kehangatan hubungan kemanusiaan terjalin erat. Rombongan DWP banyak bertukar kisah budaya dengan pemandu wisata lokal yang ramah, Mbok Dwi. Ibu-ibu DWP dengan antusias mendendangkan lagu-lagu Toraja dan mengajari Mbok Dwi beberapa kosakata Toraja. Sebaliknya, mereka juga belajar tentang adat lokal Bali seperti upacara kremasi Ngaben dan persiapan hari raya Galungan yang akan segera digelar di Pulau Dewata.

Gelak tawa juga sering pecah akibat kesalahpahaman bahasa yang menggemaskan. Saat ibu-ibu DWP berbelanja untuk mendukung produk UMKM lokal Bali, mereka baru mengetahui bahwa kata "uang" dalam bahasa Bali adalah pipis—kata yang dalam bahasa sehari-hari di Toraja merujuk pada buang air kecil.

Di balik keceriaan tersebut, misi utama membawa perubahan pelayanan di tanah kelahiran tetap menjadi fokus utama. Nursia Patiroi menegaskan bahwa studi tiru ini memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar kunjungan kerja ke Pulau Dewata.

“Ini bukan hanya tentang terbang jauh ke Bali, tetapi merupakan langkah nyata untuk memajukan lembaga. Selain itu, bagi kami di DWP, integritas itu tidak lahir begitu saja di meja kantor, melainkan dipupuk dari meja makan di rumah. Istri adalah benteng pertahanan moral pertama bagi suami. Dengan membangun rasa syukur di dalam rumah tangga, kami ikut menjaga agar para suami dapat bekerja secara jujur, bersih, dan melayani masyarakat dengan tulus,” urai Nursia pada Kamis (11/6).

Sepulang dari Bali, DWP Kemenag Tana Toraja telah menyiapkan rencana aksi nyata dalam waktu dekat. Di antaranya adalah merapikan estetika taman kantor agar pelayanan terasa lebih ramah dan nyaman bagi masyarakat, serta menghadirkan kembali program Kantin Kejujuran di lingkungan kantor sebagai sarana pembiasaan integritas sehari-hari.

Sinergi perjalanan ini terasa semakin indah karena mencerminkan inklusivitas Kemenag Tana Toraja. Nursia didampingi oleh staf kepegawaian Steffi Chandra, pengawas madrasah Hj. Nirwana Nurdin, pengawas Pendidikan Agama Kristen (PAK) Margareta Patandean dan Miryam Laga, serta para kepala madrasah seperti Hj. Nirwana Tandiara (MIM To'kaluku), Rante Mappasanda (MIN 1 Tana Toraja), dan Marhaya (MIN 3 Tana Toraja), beserta seluruh peserta studi tiru.

Kebersamaan lintas iman dan budaya ini menjadi modal berharga bagi para peserta untuk menjadi agen perubahan yang siap menghadirkan pelayanan publik yang bersih, transparan, dan penuh kasih sayang di Tana Toraja.