Mappak, Humas Penyelenggara Katolik – Perjalanan menembus perbukitan dan jalan berliku menuju Desa Batusittene, Kecamatan Mappak, menjadi pengalaman spiritual mendalam bagi jajaran Penyelenggara Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tana Toraja pada Jumat (31/7/2026). Dahulu dikenal sebagai salah satu daerah terpencil yang sulit dijangkau, kini Batusittene menjelma menjadi pusat sukacita umat berkat berdirinya Gereja Katolik Santo Ignasius Loyola.
Rombongan Kemenag yang dipimpin Penyelenggara Katolik Pius Baturante, S.S., berangkat dari Makale sejak pukul 08.30 WITA. Ikut dalam rombongan tersebut empat Penyuluh Agama Katolik—Fatli Rasid Papulung, S.Ag., Teresia Kambira', S.Ag., Yunus Joni, S.Ag., dan Petrus Tandira'pe, S.Ag.—serta Guru Pendidikan Agama Katolik, Erasmus Musa, S.Ag. Menempuh perjalanan berjam-jam menembus bentang alam pegunungan, rasa lelah seolah sirna saat menyaksikan antusiasme ratusan umat yang memadati kompleks gereja.
Perayaan dedikasi dan peresmian gereja dipimpin langsung oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Makassar (Vikjen KAMS), RP. Derikson Alverius Turnip. Momen bersejarah tersebut berlangsung khidmat dan haru, dihadiri para imam, tokoh masyarakat, pemerintah setempat, serta umat dari berbagai stasi yang berkumpul mengucap syukur.
Bagi Penyelenggara Katolik bersama para penyuluh dan guru PAK Kemenag Tana Toraja, kehadiran di Batusittene bukan sekadar pemenuhan undangan formal, melainkan bukti nyata komitmen pelayanan pastoral hingga ke wilayah pelosok. Berdirinya rumah ibadah permanen ini menjadi simbol keteguhan iman dan kerja sama gotong royong masyarakat setempat.
"Perjalanan ini mengajarkan bahwa pelayanan tidak diukur dari dekat atau jauhnya tempat yang dikunjungi, tetapi dari ketulusan hati untuk hadir dan melayani. Melihat kebahagiaan umat di Batusittene menjadi anugerah yang sangat berharga," ungkap Pius Baturante di sela-sela kegiatan.
Suasana haru dan penuh syukur makin mengudara saat nyanyian pujian dan doa liturgi dilantunkan bersama. Peresmian ini tidak hanya menandai hadirnya bangunan fisik yang megah di kaki pegunungan, tetapi juga menjadi tonggak baru bagi pertumbuhan iman, pendidikan, dan persaudaraan umat Katolik di Mappak.
Kini, Batusittene bukan lagi desa yang dipandang terisolasi, melainkan ruang inspirasi tentang ketekunan dan harapan. Gereja Katolik Santo Ignasius Loyola berdiri kokoh sebagai saksi bahwa keterbatasan geografis bukanlah penghalang bagi nyala iman dan semangat pelayanan Gereja di pelosok negeri. (FR/Red)