Makale (Humas Bimas Kristen) – Menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat tidak semata bertumpu pada patroli dan penindakan hukum, melainkan berakar kuat dari pembinaan nurani serta ketenteraman batin warga. Menyadari pentingnya keterpaduan tersebut, Penyuluh Agama Kristen Kecamatan Mengkendek menggelar silaturahmi dan kerja sama lintas sektor bersama Kepolisian Sektor (Polsek) Mengkendek pada Rabu (16/09/2026).
Kehadiran para penyuluh keagamaan ini disambut hangat oleh Kapolsek Mengkendek, Iptu Musrim, S.H., di ruang kerjanya. Pertemuan yang berlangsung akrab tersebut menjadi ruang temu gagasan strategis dalam memperkuat ketahanan moral masyarakat sekaligus memelihara Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) di wilayah Mengkendek yang majemuk.
Dalam kesempatan itu, Iptu Musrim menegaskan bahwa stabilitas suatu wilayah membutuhkan fondasi kerukunan yang kokoh. Menurutnya, semangat toleransi dan budaya gotong royong yang telah lama mengakar dalam falsafah hidup masyarakat Toraja harus terus dirawat secara sadar dan berkelanjutan.
"Bagi masyarakat Toraja, gotong royong bukan sekadar merawat tradisi masa lalu, melainkan sebuah strategi menjaga persatuan dalam membangun jembatan emosional serta etika sosial," tutur Iptu Musrim saat memaparkan pandangannya di hadapan para penyuluh.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa keragaman latar belakang suku, keyakinan, maupun golongan di Kecamatan Mengkendek sama sekali bukan beban sosial ataupun penghalang gerak pembangunan. Sebaliknya, kebhinekaan tersebut adalah modal utama yang membuat setiap elemen masyarakat saling melengkapi dan membutuhkan satu sama lain.
Senada dengan hal itu, jajaran Penyuluh Agama Kristen Kecamatan Mengkendek menyampaikan komitmennya untuk mengintegrasikan nilai-nilai pembinaan mental-spiritual ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Bimbingan keagamaan yang menyentuh ranah keluarga dan komunitas diyakini menjadi benteng preventif yang paling efektif dalam menekan potensi pelanggaran hukum.
Melalui penanaman moralitas berbasis ajaran kasih, kesadaran hukum masyarakat diharapkan tumbuh secara organik dari dalam hati, bukan sekadar karena takut terhadap sanksi aparat. Keamanan wilayah yang hakiki bukanlah sebatas ketiadaan tindak kejahatan secara kasatmata, melainkan hadirnya rasa aman dan damai yang dirasakan setiap insan.
Sinergi harmonis antara penegak hukum dan penyuluh agama ini melahirkan optimisme baru di Mengkendek. Kedamaian sejati niscaya terwujud manakala ketegasan hukum yang adil berjalan seiring dengan firman Tuhan yang menyejukkan kalbu. (Red)