Sangalla Utara, Humas Bimas Kristen – Membentuk karakter generasi muda yang jujur, rendah hati, dan berintegritas, Penyuluh Agama Kristen Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tana Toraja Wilayah Sang-Sangalla menggelar bimbingan karakter bagi peserta didik Kristen di UPT SDN 6 Sangalla Utara pada Jumat (28/08/2026). Kegiatan pembinaan rohani ini mengusung tema reflektif "Anak Keren: Kalau Salah, Berani Mengakuinya dan Meminta Maaf" yang berlandaskan pada nats Alkitab Amsal 28:13.
Dalam bimbingannya, penyuluh agama menekankan bahwa predikat "anak keren" sesungguhnya tidak hanya ditentukan oleh penampilan luar, tingkat kecerdasan akademik, atau kepopuleran di lingkungan pergaulan. Keberanian sejati seorang anak justru terpancar saat ia mampu mengakui kekhilafan, tulus meminta maaf, bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan, serta bertekad untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
Merujuk pada pengajaran Amsal 28:13—bahwa siapa yang menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, namun siapa yang mengakuinya dan meninggalkannya akan memperoleh belas kasihan—para siswa diajak merenungkan pentingnya kejujuran di hadapan Tuhan dan sesama. Penyuluh mengingatkan bahwa berbuat salah adalah hal manusiawi dalam proses belajar dan bertumbuh. Namun, kekeliruan tersebut tidak boleh ditutupi dengan dalih maupun kebohongan. Mengakui kesalahan di hadapan orang lain bukanlah bentuk kelemahan, melainkan wujud kedewasaan spiritual dan tanggung jawab moral.
Guna memudahkan internalisasi nilai tersebut, para siswa dibimbing memahami empat langkah praktis pembentukan karakter:
Menyadari perbuatan yang keliru (Salah),
Berani berkata jujur tanpa berdalih (Akui),
Menyampaikan permohonan ampun dengan tulus (Minta Maaf), serta
Mengambil tindakan nyata untuk memperbaiki diri (Berubah dan Tidak Mengulanginya).
Pihak UPT SDN 6 Sangalla Utara memberikan apresiasi tinggi atas dedikasi dan kehadiran para Penyuluh Agama Kristen Kemenag Tana Toraja. Dewan guru menilai pembinaan moral dan spiritual semacam ini sangat esensial dalam membentengi kepribadian murid sejak usia dini, sehingga aspek kecerdasan emosional dan spiritual dapat berkembang selaras dengan capaian akademik.
Pihak sekolah berharap kerja sama pembinaan karakter berbasis nilai-nilai Kristiani ini terus berlanjut secara berkala. Melalui pendampingan yang konsisten, para peserta didik diharapkan tumbuh menjadi generasi penerus Toraja yang berbudi pekerti luhur, berani memegang kebenaran, serta menjadi teladan kasih di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat luas. (Humas Bimas Kristen/Red)