Makale Utara, Humas Bimas Kristen – Tawa riang anak-anak bersahut-sahutan mengiringi permainan (games) edukatif di Gereja Bethel Tabernakel (GBT) Bukit Sion Mandetek, Kecamatan Makale Utara, pada Kamis (23/7/2026). Di sudut ruang gereja yang lain, puluhan remaja tampak larut dalam diskusi hangat bersama Penyuluh Agama Kristen Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tana Toraja, disimak penuh perhatian oleh para orang tua yang setia mendampingi.
Kebersamaan lintas generasi ini mewarnai peringatan Hari Anak Nasional (HAN) Tahun 2026. Kegiatan pendampingan khusus tersebut dikemas tidak hanya sebagai sarana edukasi keagamaan, tetapi juga wujud nyata komitmen Kemenag dalam melindungi hak-hak anak dan membentengi generasi muda dari berbagai ancaman sosial.
Kehadiran orang tua dalam momentum ini menjadi catatan penting. Tim penyuluh menilai, penyelarasan pola asuh di rumah dengan pembekalan nilai-nilai kemanusiaan di gereja merupakan kunci utama dalam membentuk karakter anak yang beriman dan tangguh.
Dalam bimbingannya, Penyuluh Agama Kristen memfokuskan perhatian pada dua isu krusial yang kerap dihadapi anak dan remaja masa kini. Sub-tema pertama mengusung kampanye "Lindungi Teman: Berbeda Itu Biasa, Berteman Itu Luar Biasa, Setara Tanpa Kekerasan". Melalui sesi ini, anak-anak diajak memahami bahwa perbedaan latar belakang, fisik, maupun karakter adalah kekayaan yang harus dihargai. Penyuluh menegaskan pentingnya menciptakan lingkungan gereja, sekolah, dan pemukiman yang bebas dari perundungan (bullying).
Sementara itu, sub-tema kedua menyasar kalangan remaja dan orang tua lewat pesan mendalam: "Stop Perkawinan Anak: Biarkan Aku Tumbuh dan Meraih Impian". Penyuluh memberikan pemahaman komprehensif mengenai risiko pernikahan usia dini, mulai dari dampak kesehatan reproduksi, kesiapan mental, hingga ketahanan ekonomi keluarga. Para orang tua didorong untuk mengawal anak-anak mereka menuntaskan pendidikan, sedangkan para remaja dimotivasi untuk fokus mengembangkan potensi diri dan berani mengejar cita-cita.
Agar pesan yang disampaikan mudah diserap, rangkaian kegiatan diawali dengan ibadah bersama untuk meletakkan fondasi spiritual. Seusai ibadah, suasana mencair lewat diskusi interaktif kelompok remaja yang berani mengutarakan tantangan pergaulan sehari-hari, serta permainan edukatif yang mengajarkan kerja sama dan kasih persaudaraan bagi peserta anak-anak.
Melalui pendampingan terpadu ini, Penyuluh Agama Kristen Kemenag Tana Toraja berharap anak-anak di Makale Utara dapat tumbuh menjadi generasi yang takut akan Tuhan, toleran, serta senantiasa terlindungi hak-haknya demi meraih masa depan yang cerah di Bumi Toraja. (Humas Bimas Kristen/Red)