Makale, Humas MAN Tana Toraja — Suasana hangat penuh kekeluargaan menyelimuti Kampus Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tana Toraja. Madrasah yang berdiri kokoh di Bumi Lakipadada ini menerima kunjungan studi tiru dari rombongan Kelompok Kerja Kepala Madrasah Aliyah (KKMA) Kementerian Agama Kabupaten Takalar. Kunjungan ini bertujuan untuk memelajari serta mendalami strategi penerapan moderasi beragama dan pengelolaan pendidikan berbasis kearifan lokal.
Kedatangan rombongan KKMA Takalar disambut secara megah dan sakral melalui prosesi adat Ma'Parapak. Penyambutan kian semarak dengan ketangkasan Pasukan Prawira Ambara serta keindahan Tarian khas Toraja yang dibawakan anggun oleh para siswa.
Rombongan tamu dipimpin langsung oleh Ketua KKMA Takalar, Drs. H. Muh. Yunus, bersama jajaran kepala madrasah dan guru swasta se-Kabupaten Takalar. Dari pihak tuan rumah, acara dihadiri oleh Plt. Kepala Seksi Pendidikan Islam (Pendis) Kemenag Tana Toraja, H. Tamrin Lodo, serta Ketua Komite MAN Tana Toraja, H. Suardi.
Dalam pemaparannya yang lugas dan inspiratif, Kepala MAN Tana Toraja, H. Rosmawati, membeberkan realitas sosio-kultural madrasah yang tumbuh di tengah masyarakat mayoritas non-Muslim. Menurutnya, posisi sebagai minoritas tidak membuat madrasah eksklusif, melainkan justru memicu lahirnya keterbukaan dan sikap inklusif tanpa kehilangan identitas keislaman.
"Kami merawat keberagaman melalui ikatan Tongkonan dan nilai-nilai falsafah kekerabatan lokal Toraja, seperti Siangkanan (saling menopang dan membantu), Sikamali’ (saling merindukan dan mempedulikan), serta Sikaboro’ (saling mengasihi tanpa pamrih). Nilai-nilai luhur inilah yang menjadi pilar perekat hubungan kekeluargaan lintas agama di Tana Toraja," ungkap H. Rosmawati saat memaparkan materi bertajuk Menyemai Islam Rahmatan Lil 'Alamin di Bumi Lakipadada.
Tak hanya sekadar teori, integrasi nilai moderasi beragama di MAN Tana Toraja diterapkan secara nyata dalam proses pembelajaran di kelas dengan konteks kearifan lokal yang diresapi dalam nilai kebangsaan, dan mengutamakan moderasi sebagai indikator utama. Pendekatan ini dibuktikan lewat diskusi tematik Fiqih Muamalah, di mana siswa diajarkan menarik batas tegas antara ibadah murni (ubudiyah) dan keluwesan hubungan kemasyarakatan (muamalah) yang menghadirkan tokoh lintas Agama.
Implementasi tersebut membuahkan hasil positif. Berdasarkan hasil assessment moderasi beragama siswa MAN Tana Toraja, indikator Toleransi mencapai angka 74% kategori Sangat Baik dan 20% Baik. Begitu pula dengan indikator Anti-Kekerasan yang mencatatkan 70% Sangat Baik dan 23% Baik.
Di samping itu, penguatan nilai toleransi juga diperkuat melalui sinergi dengan berbagai organisasi keagamaan dan lembaga kemasyarakatan. MAN Tana Toraja menjalin kerja sama aktif dengan Ormas Keagamaan seperti NU melalui pengkaderan MAKESTA, Muhammadiyah lewat ekstrakurikuler Tapak Suci, hingga ruang dialog bersama ICMI, KUA, Polres, serta jajaran DWP. Sinergi lintas agama juga tampak dari kepedulian sosial warga madrasah, seperti tradisi melayat dan berbelasungkawa saat ada tetangga sekitar atau warga jemaat gereja yang berduka.
Atas penyambutan dan pemaparan materi yang begitu berkesan, Ketua KKMA Takalar, Drs. H. Muh. Yunus, memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya. Ia berharap praktik baik dan harmoni yang telah terbangun di MAN Tana Toraja dapat dijadikan contoh serta diterapkan di madrasah-madrasah yang ada di Kabupaten Takalar.
Melalui kunjungan studi tiru ini, MAN Tana Toraja membuktikan bahwa madrasah mampu menjadi garda terdepan dalam merawat kebinekaan, menanamkan toleransi sejak dini, serta menumbuhkan Islam yang membawa rahmat bagi semesta alam.