Rembon, Humas Penyelenggara Katolik – Jajaran Satuan Kerja (Satker) Penyelenggara Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tana Toraja menghadiri puncak peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) tingkat Kevikepan Toraja yang diselenggarakan di Paroki Santo Antonius Rembon, Jumat (16/10/2026).
Puncak perayaan tahun ini mengusung tema "Penguatan Ekologis-Sinodalitas: Mendengarkan Jeritan Bumi dan Penghuninya". Melalui tema tersebut, umat diajak menyadari bahwa ancaman krisis pangan, degradasi lingkungan hidup, dan peningkatan kesejahteraan warga merupakan tanggung jawab moral bersama yang menuntut keterlibatan aktif seluruh lapisan masyarakat.
Peringatan Hari Pangan Sedunia dimaknai bukan sebatas ungkapan syukur atas limpahan hasil bumi, melainkan momentum pembaharuan komitmen menuju pola hidup yang bersahaja, bijaksana, dan ramah terhadap alam semesta. Bumi sebagai rumah bersama memerlukan pemeliharaan berkelanjutan agar senantiasa mampu menopang kehidupan lintas generasi.
Dalam perspektif ajaran iman Katolik, kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian integral dari panggilan merawat ciptaan Allah. Landasan moral ini berakar kuat pada pesan ensiklik Laudato Si’ yang digaungkan Paus Fransiskus, yakni seruan memelihara kelestarian bumi sekaligus mengulurkan keberpihakan kepada mereka yang paling rentan terhadap imbas kerusakan ekologis dan ketimpangan sosial.
Sejalan dengan itu, semangat sinodalitas memanggil Gereja dan umat untuk terus berjalan bersama, saling mendengarkan, dan membuka ruang dialog. Mendengarkan jeritan bumi berarti mengasah kepekaan terhadap kerusakan ekosistem dan kerentanan pangan. Sementara itu, mendengarkan jeritan penghuninya bermakna mencurahkan kepedulian nyata kepada kaum papa, petani, keluarga prasejahtera, serta kelompok marginal yang membutuhkan pendampingan berkelanjutan.
Kehadiran Satker Penyelenggara Katolik menegaskan pentingnya sinergi antara tugas kepenyuluhan agama, pendidikan iman, pemberdayaan ekonomi umat, dan penyelamatan lingkungan. Melalui pembinaan umat, nilai-nilai spiritual diharapkan bertransformasi menjadi tindakan konkret, seperti penghentian pemborosan makanan (food waste), konsumsi bahan pangan lokal, pengurangan timbulan sampah plastik, serta penguatan ketahanan pangan keluarga.
Pangan lokal memiliki peran strategis dalam denyut kehidupan masyarakat Toraja. Selain menjadi identitas kearifan lokal, pengembangan bahan pangan setempat mampu memupuk kemandirian daerah, menopang perekonomian keluarga, dan mengangkat martabat para petani. Pelestarian alam dan penguatan pangan lokal dinilai harus berjalan beriringan demi terwujudnya tatanan sosial yang berkeadilan.
Penyelenggara Katolik Kantor Kemenag Tana Toraja mengapresiasi kebersamaan seluruh elemen dalam perayaan akbar ini. Pihaknya menegaskan bahwa panggilan ekologis harus melampaui seremoni formal.
"Dengan semangat ekologis dan sinodalitas, mari kita tidak hanya berbicara tentang kepedulian, tetapi juga mewujudkannya melalui tindakan nyata demi kelestarian alam, ketahanan pangan, dan kesejahteraan bersama," pesannya.
Puncak perayaan ini dihadiri oleh Vikaris Episkopal (Vikep) Toraja, jajaran pastor paroki, pejabat Penyelenggara Katolik Kemenag Tana Toraja, para Penyuluh Agama Katolik, guru pendamping, serta ratusan perwakilan umat dari berbagai paroki di wilayah Kevikepan Toraja. Kegiatan ini diharapkan mempererat kerja sama lintas sektor antara Gereja, pemerintah, lembaga pendidikan, dan komunitas masyarakat dalam merawat keutuhan ciptaan.(FR/Red)