Logo Kemenag SIRITA Sistem Informasi Religi Tana Toraja
Madrasah / MAN Tana Toraja

Rawat Toleransi Lewat Kurikulum Berbasis Cinta, Ratusan Siswa MAN Tana Toraja Selami Moderasi Beragama di Batara White House

Tayang: Kamis, 11 Juni 2026 16:08 WITA

Penulis: Munawwir

122 views 1 suka 5 dibagikan
Rawat Toleransi Lewat Kurikulum Berbasis Cinta, Ratusan Siswa MAN Tana Toraja Selami Moderasi Beragama di Batara White House

TORAJA UTARA, Humas MAN Tana Toraja – Ratusan peserta didik Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tana Toraja menembus sekat ruang kelas demi menyelami langsung laboratorium hidup keberagaman. Bertempat di Batara White House, Toraja Utara, seluruh siswa kelas X dan XI, didampingi oleh jajaran guru serta staf madrasah, menggelar kegiatan belajar di luar lingkungan madrasah, Kamis (11/6). Kegiatan ini mengintegrasikan indikator utama Moderasi Beragama Kementerian Agama RI dengan esensi Kurikulum Berbasis Cinta.

Berbeda dengan pembelajaran konvensional, kegiatan ini dikemas interaktif melalui perpaduan *talk show* budaya lintas agama dan simulasi lapangan berbentuk *outbound games*. Langkah strategis ini sengaja diambil untuk menanamkan esensi pendidikan yang memanusiakan, sekaligus melatih siswa agar mampu melihat perbedaan keyakinan sebagai ruang untuk mempraktikkan kasih sayang atau Rahmatan lil 'Alamin.

Dialog Segitiga: Menatap Keberagaman Tanpa Prasangka

Puncak keseruan pembelajaran luar kelas ini berpusat pada sesi *talk show* yang menggunakan metode "Segitiga Dialog". Berdiri dalam satu panggung, madrasah menghadirkan tokoh penting dari berbagai latar belakang, di antaranya Tokoh Agama Islam H. Tamrin Lodo, Tokoh Adat dan Agama Kristen Pendeta Musa Salussu, serta Ketua Komite MAN Tana Toraja H. Suardi Sidik.

Kehadiran para tokoh ini memicu antusiasme tinggi dari para siswa, terutama saat sesi pemantik interaktif dibuka. Mengingat banyak siswa yang tumbuh dalam keluarga besar multi-agama di dalam rumah Tongkonan, pertanyaan-pertanyaan empiris mengenai dilema sosial—seperti batasan berteman dengan non-Muslim hingga tata cara menghadiri upacara adat Rambu Solo' (kedukaan) atau Rambu Tuka' (kegembiraan)—menjadi ulasan yang sangat hidup.

Dalam pemaparannya, H. Tamrin Lodo menekankan pentingnya memperkuat teologi inklusif melalui konsep *Ukhuwah Insaniyah* (persaudaraan sesama manusia) dan *Ukhuwah Wathaniyah* (persaudaraan sebangsa). Beliau menggarisbawahi bahwa batasan toleransi harus disikapi secara bijak.

"Memuliakan manusia adalah cara kita memuliakan Penciptanya. Islam di Toraja adalah Islam yang membawa sejuk dan damai. Kita harus tetap teguh dalam akidah, namun lembut dan penuh cinta dalam muamalah atau hubungan sosial sehari-hari," urai H. Tamrin Lodo di hadapan ratusan siswa.

Senada dengan hal tersebut, Pendeta Musa Salussu mengapresiasi keterbukaan para siswa madrasah dan mengajak mereka untuk membongkar stereotip atau prasangka negatif. Ia memandang siswa MAN Tana Toraja sebagai mitra penting untuk kemajuan daerah, khususnya dalam kolaborasi isu kemanusiaan seperti lingkungan hidup, pendidikan, dan pengentasan kemiskinan.

"Perbedaan iman bukanlah tembok pemisah, melainkan warna-warni yang memperindah kain persaudaraan kita di Toraja," tutur Pendeta Musa Salussu hangat.

Dalam perspektif kultural, falsafah lokal Toraja seperti "Misa' kada dipotuo, pantan kada dipomate" (bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh) serta tatanan adat gotong royong ikut dikupas. Siswa diajak memahami bahwa Tongkonan bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol pemersatu keluarga yang kokoh meskipun anggota di dalamnya menganut keyakinan yang berbeda.

Dukungan Komite dan Harapan Masa Depan Madrasah

Kegiatan inovatif ini mendapat apresiasi penuh dari Komite Madrasah sebagai representasi orang tua siswa. Ketua Komite MAN Tana Toraja, H. Suardi Sidik, yang hadir langsung memantau jalannya kegiatan, menyatakan bahwa model pembelajaran kontekstual seperti ini merupakan lompatan besar bagi mutu pendidikan madrasah.

Ia pun menyampaikan harapan dan komitmennya yang kuat untuk keberlanjutan serta pengembangan MAN Tana Toraja di masa-masa yang akan datang.

"Komite madrasah berkomitmen penuh mendukung program-program kreatif yang mampu memperluas cakrawala berpikir anak-anak kita. Harapan kami ke depan, MAN Tana Toraja tidak hanya unggul dalam prestasi akademik dan penguatan spiritual, tetapi juga menjadi pelopor madrasah inklusif di Sulawesi Selatan. Melalui kegiatan luar lingkungan seperti ini, kita sedang membentuk generasi pemimpin masa depan Toraja yang cerdas, adaptif, menghormati tradisi, dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi," tegas H. Suardi Sidik optimis.

Meresapi Moderasi Lewat Outbound Games dan LKPD Reflektif

Tidak berhenti pada teori dan diskusi, pengalaman moderasi beragama para siswa diperkuat lewat kegiatan *outbound games* yang dirancang khusus di area luar ruangan Batara White House. Setiap permainan menuntut kerja sama tim yang solid, komunikasi yang santun, serta hilangnya ego kelompok. Nilai-nilai moderasi seperti komitmen kebangsaan, anti-kekerasan, dan sikap akomodatif terhadap budaya lokal dipraktikkan langsung secara menyenangkan oleh para peserta didik.

Guna mengukur kedalaman pengalaman emosional dan kognitif tersebut, pasca-acara siswa langsung diwajibkan mengisi Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) interaktif. Melalui LKPD ini, mereka ditantang melakukan analisis kritis menggunakan bahasa yang santun dan penuh rasa cinta kasih. Beberapa poin penilaian bertumpu pada bagaimana mereka merancang rencana aksi nyata jika menemui narasi radikal atau stereotip negatif di media sosial (Instagram/TikTok), serta menyusun ide kolaborasi antara OSIM MAN Tana Toraja dengan remaja gereja atau pemuda adat.

Pihak madrasah sendiri menerapkan Rubrik Penilaian yang humanis (rentang nilai 50-100). Penilaian ini mengutamakan kedalaman pemahaman, relevansi kontekstual lokal Toraja, serta orisinalitas ide siswa, bukan sekadar benar atau salah secara kaku. Langkah ini diharapkan mampu mencetak lulusan dengan Predikat Istimewa: memiliki kepekaan emosional yang matang, berjiwa inklusif, dan siap menjadi Agen Moderasi Digital di tengah masyarakat.

Melalui model pembelajaran luar kelas yang menyentuh hati ini, siswa MAN Tana Toraja diharapkan tidak hanya bangga akan identitas keislamannya, tetapi juga semakin menghormati tatanan adat dan persaudaraan sekampung demi menjaga kedamaian abadi di bumi Toraja.